Karyadari Tere Liye memang selalu booming. Penulis satu ini memang sangat berbakat dan tak heran jika karyanya banyak dicari. Uniknya, kita akan sedikit kesulitan untuk menemukan informasi kehidupan dari penulis yang satu ini. Novel "Rindu" karya Tere Liye ini bisa kamu miliki lho. thenovel Tentang Kamu Tere Liye's work consists of, the theme and facts of the story. The theme of the novel Tentang Kamu by Tere Liye is the struggle for a woman's life to be strong, strong and patient in facing various trials. The main figure in this novel is Sri Ningsih. The setting is divided into place, time and social setting. I896D. About Blog Projects Help Donate Donate icon An illustration of a heart shape Contact Jobs Volunteer People Bookreader Item Preview texts Tere Liye Tentang Kamu Addeddate 2022-01-20 051356 Identifier tere-liye-tentang-kamu Identifier-ark ark/13960/s2w9cd6jrc8 Ocr tesseract Ocr_detected_lang id Ocr_detected_lang_conf Ocr_detected_script Latin Ocr_detected_script_conf Ocr_module_version Ocr_parameters -l ind Ppi 600 Scanner Internet Archive HTML5 Uploader comment Reviews There are no reviews yet. Be the first one to write a review. 59 Views DOWNLOAD OPTIONS Uploaded by weeding on January 20, 2022 SIMILAR ITEMS based on metadata Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 1 Fakta Kemanusiaan Dalam Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye Yang Mencerminkan Sejarah PKI Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann Ayu Nurmalayani1, Burhanuddin2, dan Johan Mahyudi3 Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unram email ayurengganisa1la Abstract . This research study aims to describe the reflection on the history of the PKI in Tere Lie's Novel About You. The focus of his description is human facts in novels that reflect the history of the PKI. This research is a descriptive qualitative study using genetic structuralism theory. The research data were collected using the document review method. Data were analyzed using structural genetic methods. Based on the results and discussion, it is known that the human facts in Tere Liye's novel About You reflect the dominant PKI history in the form of social facts, namely in the form of social, economic, and political relations. In this case, some are verbal and some are nonverbal. It can be concluded that 1 Social facts in the form of social relations are reflected in the story of the kidnapping and massacre of kyai, kiyai families, and pesantrean pesantrean santri by Musoh and Latri because of their dissatisfaction with Ma'sum's financial policy, even though previously they were religious people of Kyai Ma ' sum; 2 Social facts in the form of economic relations reflected in the story of the economic arrangement of the Islamic boarding schools which were used as tools to incite others to hate the leaders of the Islamic boarding schools and to carry out rebellions; and 3 social facts in the form of political relations reflected in the story of the communist movement in Indonesia in 1948-1965, the uncontrolled struggle for influence and power between the TNI and PKI political elites, and the spread of hateful words / slogans by the PKI group. Keywords Reflection, PKI History, Genetic Structuralism, And Human Facts Abstrak. Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan refleksi sejarah PKI dalam Novel Tentang Kamu karya Tere Lie. Fokus pendeskripsiannya adalah fakta kemanusiaan dalam novel yang mencerminkan sejarah PKI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teori strukturalisme genetik. Data penelitian dikumpulkan dengan metode telaah dokumen. Data dianalisis dengan menggunakan metode struktural genetik. Berdasarkan hasil dan pembahasan, diketahui bahwa fakta kemanusiaan dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang mencerminkan sejarah PKI dominan berupa fakta sosial, yakni berupa hubungan sosial, ekonomi, dan politik. Dalam hal ini, ada yang berupa verbal dan ada pula yang berupa nonverbal. Disimpulkan bahwa 1 Fakta sosial berupa hubungan sosial tercernin pada kisah penculikan dan pembantaian kiyai, keluarga kiyai, dan santri-santri pondok pesantrean oleh Musoh dan Latri karena ketidakpuasannya terhadap kebijakan kiayai Ma’sum, padahal sebelumnya mereka ada lah orang kepercayaan kiyai Ma’sum; 2 Fakta sosial berupa hubungan ekonomi tercernin pada kisah pengaturan perekonomian pondok pesantren yang dijadikan alat untuk menghasut orang lain agar membenci pimpinan pondok pesantren dan melakukan pemberontakan; dan 3 Fakta sosial berupa hubungan politik tercernin pada kisah pergerakan faham komunis di Indonesia tahun 1948-1965, perebutan pengaruh dan kekuasaan anatar elit politik TNI dan PKI yang tak terkendali, dan penyebaran kata-kata/slogan kebencian oleh kelompok PKI. Kata kunci Refleksi, Sejarah PKI, Strukturalisme Genetik, Dan Fakta Kemanusiaan PENDAHULUAN Realita yang dimunculkan pengarang dalam karya-karyanya tidak lepas dari lingkungan sekitar dan masa lalunya. Realita ini diramu dalam kisah-kisah yang mampu menginspirasi pembaca. Kisah historis atau Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 2 sejarah juga termasuk realita yang sering dimunculkan dalam sebuah karya sastra termasuk novel. Rokhman, 200823 menyatakan bahwa karya sastra tidak dapat dilepaskan dari kolektivitas dan konteks historis yang melahirkannya. Sejarah historis menjadi salah satu unsur yang menarik untuk diangkat menjadi latar dan tema sebuah novel. Selain mampu menuntun imajinasi, sejarah juga mampu membangun cara berpikir kritis dan kreatif karena darinya diperoleh refleksi kehidupan untuk perbaikan masa mendatang. Salah satunya adalah kisah historis yang menjadi latar sosial pada novel-novel Tere Liye. Dalam novel-novelnya, Tere Liye banyak mengambil sejarah sebagai latar belakang penggambaran ceritanya. Tere Liye menyusun sederet kalimat yang dapat mewakili rentetan cerita sejarah masa silam dan dimunculkan kembali dalam bentuk cerita untuk diketahui pembaca pada zaman selanjutnya. Penulisan semacam ini juga dimaksudkan untuk dapat menawarkan berbagai nilai sejarah bagi pembaca. Hal ini dikarenakan nilai sejarah merupakan nilai yang dapat memberikan pemahaman bagi pembaca agar bisa belajar dari peristiwa masa lalu dalam menyikapi dilematika kehidupan masa kini. Pada beberapa novel Tere Liye ditemukan sejumlah catatan sejarah bangsa Indonesia. Catatan-catatan sejarah ini dijadikan latar penceritaan kisah yang dibangun untuk menjelaskan sutau fenomena yang muncul pada aktivitas dan lingkungan pengarang. Tere Liye memanfaatkan catatan sejarah itu sebagai latar penceritaan dalam novelnya dengan maksud agar sejarah itu tidak hilang, terus dikenang, dan menjadi pembelajaran bagi generasi berikutnya. Catatan-catatan sejarah yang dikemas Tere Liye dengan gaya penceritaan anak muda menjadikan novel-novelnya menarik dan mendapat sambutan banyak kalangan. Misalnya. “Aku bergegas memperbaiki posisi duduk. Sudah pukul Di Jimbaran itu berarti pukul Berbilang menit lagi matahari akan tenggelam di sana Liye, 2015 6. Tetapi ya Tuhan, orang-orang jahat itu hanya butuh waktu satu detik untuk mengacak-acak seluruh kebahagiaan Rosie. Mengacak-acak semuanya. Timer bom itu sempurna menyentuh angka nol Liye, 201819. Ini adalah jejak-jejak sejarah Bom Bali. Pada novel Rindu, ditemukan penggunaan latar sejarah pelayaran pemberangkatan Haji dari Indonesia ke Tanah Suci sejak zaman penjajahan Belanda Liye, 2014. Pada novel Tentang Kamu Liye, 2016 dan Anak Cahanya Liye, 2018 ditemukan penggunaan latar sejarah Partai Komunis Indonesia PKI sebagai latar penceritaan. Pada novel Anak Cahanya, latar PKI yang diangkat adalah sejarah PKI di Sumatera, yang tidak menjadi catatan sejarah nasional karena tidak terdokumentasikan secara nasional pada buku-buku sejarah. Secara kuantitas, juga terdapat hanya pada sebagian kecil penggalan novel. Sebaliknya, pada novel Tentang Kamu, sejarah PKI yang digunakan sebagai latar penceritaannya terdokumentasikan sebagai catatan sejarah nasional bangsa. Lebih dari itu, secara kuantitas juga terdapat pada sebagian besar penggalan novel. Sejarah PKI sebagai latar penceritaan novel Tentang Kamu dapat diungkap melalui tiga hal sesuai dengan pandangan teori strukturalisme generik. Ketiga hal dimaksud adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia Goldmann dalam Faruk, 201456. Melalui tulisan ini akan disajikan hasil penelitian tentang sejarah PKI pada novel Tentang Kamu yang tercermin pada fakta kemanusiaan. Oleh karena itu, masalah yang dibahas melalui tulisan ini adalah bagaimanakah fakta kemanusiaan dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang mencerminkan sejarah PKI? Strukturalisme dipandang sebagai pendekatan objektif, yakni pendekatan dalam penelitian sastra yang memusatkan perhatiannya pada otonomi sastra sebagai karya fiksi Iswanto, 2003 60. Analisis secara struktural memang menghasilkan suatu analisis yang objektif terhadap suatu karya. Namun demikian, strukturalisme mempunyai dua kelemahan, yaitu hanya melakukan penyelidikan terhadap unsur formal yang Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 3 bertolak dari struktur bahasa dan hanya memperhatikan adanya sistem itu sendiri Junus dalam Faruk, 2002 16. Dalam konteks ini, analisis struktural merupakan salah satu kajian kesusastraan yang menitikberatkan hanya pada hubungan antarunsur pembangun karya sastra, berupa tema, penokohan, alur, pusat pengisahan, latar, dan sebagainya. Struktur karya sastra semisal novel merupakan sebuah totalitas makna, yang dibangun oleh unsur instrinsik dan ekstrinsik Sitepu, 2009. Hal ini lazim dipandang sebagai makro sastra Damono, 2009; Ratna, 2013. Oleh karena itu, analisis struktural perlu dilanjutkan dengan analisis sosiologi yang disebut dengan strukturalisme genetik. Goldmann, filsuf dan sosiolog Prancis, pencetus teori strukturalisme genetik mengatakan bahwa seorang pengarang tidak mungkin mempunyai pandangan sendiri. Pada dasarnya, dia menyuarakan pandangan dunia suatu kelompok sosial, trans-individual subject Fananie, 2000117. Pandangan tersebut bukanlah suatu realitas, melainkan sesuatu yang hanya dapat dinyatakan secara imajinatif dan konseptual dalam bentuk karya sastra besar. Dengan kata lain, karya sastra yang besar oleh Goldmann dianggap sebagai fakta sosial dari trans-individual subject karena merupakan hasil aktivitas yang objeknya merupakan alam semesta dan kelompok manusia Fananie,2000118. Itulah sebabnya, pandangan dunia worldview yang tercermin dalam karya sastra terikat oleh ruang dan waktu yang menyebabkan ia bersifat historis. Hal inilah yang menjadikan teori Goldmann selalu menekankan pada latar belakang sejarah. Goldmann mempertegas kembali bahwa di samping hakikat karya sastra yang bersifat otonom, karya sastra tidak dapat terlepas dari unsur ekstrinsik karya sastra itu sendiri. Berdasarkan anggapan di atas, menurut Goldmann, teori strukturalisme-genetik memiliki dua kerangka besar. Pertama, hubungan antara makna suatu unsur dengan unsur lainnya dalam suatu karya sastra yang sama, dan kedua hubungan tersebut membentuk suatu jaring yang saling mengikat. Oleh karena itu, seorang pengarang pada dasarnya akan menyarankan pandangan dunia suatu kolektif. Pandangan tersebut bukan merupakan realitas melainkan suatu refleksi yang diungkap secara imajinatif Endraswara, 2011 56 Goldmann dalam Fernando, 2018 merumuskan penelitian strukturalisme genetik ke dalam tiga hal,yaitu 1 penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan; 2 karyasastra yang diteliti mestinya karya sastra yang mengandung tegangan tension antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan a coherent whole; 3 jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latarbelakang sosial. Goldmenn membangun seperangkat kategori atau konsep yang saling berkaitan, yang melahirkan teori strukturalisme genetik. Salah satu kategori dimaksud adalah fakta kemanusiaan. Sebuah karya tidak lahir secara serta merta melainkan melalui proses yang dilalui oleh pengarang. Kehidupan tokoh yang dituang pengarang dalam karyanya tak bisa lepas dari aktivitas subjek yang ada di dalamnya. Aktivitas-aktivitas ini merupakan fakta yang diolah pengarang dalam imajinasinya. Fakta ini terbentuk selain dari aktivitas imjinasi pengarang, juga dipengaruhi oleh aktvitas sosial pengarang sebagai anggota masyarakat. Seperti yang dikatakan Faruk bahwa fakta kemanusiaan merupakan segala hasil aktivitas atau perilaku manusia baik verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta tersebut berwujud aktivitas sosial tertentu seperti sumbangan bencana alam, aktivitas politik tertentu seperti pemilu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni musik, seni patung, dan seni sastra Faruk, 2014 57. Meskipun fakta kemanusiaan berwujud macam-macam, tetapi pada hakikatnya fakta kemanusiaan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu, fakta individual dan fakta sosial. Fakta individual tidak mempunyai peranan dalam sejarah sedangkan fakta sosial sebaliknya. Menurut Faruk 2014 57, fakta pertama hanya Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 4 merupakan hasil dari prilaku libidinal seperti mimpi, tingkah laku orang gila, dan sebagainya. Sementara itu, fakta sosial memiliki dampak pada hubungan sosial, ekonomi, maupun politik antaranggota masyarakat. Faruk juga menjelaskan bahwa dalam teori strukturalisme-genetik, sebuah pernyataan yang dianggap sahih jika di dalamnya terkandung gambaran mengenai tata kehidupan yang bersistem dan terpadu, yang didasarkan pada sebuah landasan ontologis yang berupa kodrat keberadaan kenyataan itu dan pada landasan epistemologis yang berupa seperangkat gagasan sistematik mengenai cara memahami atau mengetahui kenyataan yang bersangkutan Faruk, 2014 56. Berangkat dari pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu percobaan agar sesuai dengan inspirasi yang telah dibangun subjek tersebut. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan suatu hasil usaha seorang individu untuk memperoleh suatu keseimbangan yang baik dalam hubungannya dengan dunia sekitarnya Faruk, 201456. Sejalan dengan pendapat tersebut, Endraswara 201155 menyatakan bahwa semua aktivitas manusia merupakan respon dari subjek kolektif atau individu yang berada dalam situasi tertentu. Aktivitas tersebut merupakan hasil kreasi untuk memodifikasi situasi agar sesuai dengan aspirasi yang ada. Dalam konteks ini, manusia memiliki kecenderungan untuk berperilaku secara alami karena harus menyesuaikan situasi dengan lingkungan dan alam sekitarnya. Inilah makna dari fakta kemanusiaan tersebut. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif Sugiyono, 2014, yakni terhadap karya sastra berupa novel. Hal ini karena penjabaraan hasil yang diperoleh dijelaskan melalui kata, frase dan kalimat bukan melalui angka-angka Ratna, 201346. Objek penelitiannya adalah novel Tere Liye yang berjudul Tentang Kamu. Data penelitian ini, berupa kata-kata, frasa, atau kalimat yang menunjukkan fakta kemanusiaan sebagai jejak sejarah PKI pada novel Tentang Kamu. Data penelitian ini dikumpulkan dengan metode telaah dokumen dengan teknik baca dan catat. Dalam hal ini, membaca semua sumber data primer dan skunder lalu mencatat data-data terkait masalah penelitian. Data dianalisis dengan menggunakan metode struktural genetik, yakni mengkaji karya sastra melalui sudut pandang ekstrinsik sosiologi historis. Analisis data dalam penelitian dengan metode strukturalisme genetik mengikuti tiga langkah kerja, yaitu 1 mengkaji unsur intrinsik karya sastra baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhannya, 2 mengkaji latar belakang kehidupan sosial budaya pengarang, dan 3 mengkaji latar belakang sosial budaya tempat sastra itu lahir Iswanto, 2003; Siswantoro, 2010; dan Faruk, 2014. HASIL DAN PEMBAHASAN Setiap karya sastra memiliki unsur pembangun dalam pembentukannya. Salah satu unsur pembangun dimaksud adalah kondisi sosial masyarakat pendukungnya. Sebagai bagian dari masyarakat, pengarang tentu beraintraksi dengan masyarakat yang menghasilkan aktivitas-aktiviatas berbentuk fakta-fakta. Kondisi sosial masyarakat tidak lepas dari kejadian atau peristiwa dalam proses perjalanan sejarah Wibowo, 2017. Peristiwa atau kejadian inilah yang memunculkan fakta-fakta kemanusiaan, baik yang verbal maupun nonverbal, dan yang bersifat individual maupun sosial Faruk,2014. Sesuai dengan masalah pada tulisan ini, berikut disajikan pembahasan terkait fakta kemanusiaan pada novel Tentang Kamu karya Tere Liye, yang mencerminkan sejarah pemberontakan PKI di Indonesia. Tere Liye menggambarkan fakta-fakta dalam novelnya sebagaimana fakta yang sesungguhnya. Dalam hal ini dengan pilihan kata yang syarat dengan emosi. Beberapa fakta yang muncul terutama yang berkaitan dengan peristiwa pemberontakan PKI banyak bertebaran pada Bab Penghianatan I. Dalam bab ini, banyak ditemui fakta sosial Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 5 meskipun tidak bisa dipungkiri ada juga yang memunculkan fakta individual. Fakta sosial seperti yang dikatakan oleh Faruk adalah fakta yang memiliki peranan dalam sejarah. Fakta kemanusiaan ini dapat berupa hubungan sosial, ekonomi dan politik 201457. Sehingga dalam penelitan ini pembahasan akan dilakukan lebih dalam pada fakta kemanusiaan yang berupa fakta sosial dalam tiga bentuk ini. Fakta Sosial berupa Hubungan Sosial Dalam novel ini tokoh Musoh yang semula adalah santri sekaligus menantu angkat yang dibanggakan, wakil dari sang kiyai, tiba-tiba berubah haluan. Pribadi yang dibanggakan akan membantu kiyai menjaga dan membangun pondok pesantren tiba-tiba berbalik arah sebagai pembenci dan memusuhi kiyai. Hal ini terjadi berawal dari kehadiran Arifin di pondok pesantren itu. Ia melamar Nuraini, anak pak kiyai setelah ia pulang dari Mesir. Setelah Arifin resmi menjadi menantu, banyak tugas pak kiyai dikerjakan olehnya. Bahkan kemudian ia ditunjuk untuk memimpin pondok putra menggantikan posisi Musoh. Rasa iri dan kecewa menggerogoti hati Musoh. Ia merasa dibuang oleh pak kiyai sehingga ia jarang mengikuti kegiatan pondok pesantren bahkan ia memutuskan keluar dari pondok pesantren . Untuk membalas dendam, Musoh mengikuti ormas beraliran kiri. Musoh tidak puas hanya keluar dari pondok. Ia juga mempengaruhi Lastri, istrinya untuk membenci kiyai dan pondok pesantren. Lastri yang semula sangat menyayangi keluarga Kiyai Maksum terlebih Nuraini kini menjadi sangat membenci mereka. Tugasnya melatih tari dan ketoprak untuk santri putri, tidak lagi ia kerjakan. Puncaknya, Musoh dan Lastri memimpin penculikan dan pembantaian pak kiyai, keluarga kiyai, dan santri-santri. Para santri dan keluarga pak Kiyai dibawa ke loji sebuah gudang tebu. Mereka disekap dan disiksa sebelum akhirnya gudang itu dibakar. Mereka tepanggang hidup-hidup di dalam loji itu. Kekejian yang dilakukan terhadap warga pondok ini tergambar pada penggalan teks berikut. “Masukkan mereka kedalam loji” Sulastri berseru. Kiyai Ma’sum, istri dan anak-anaknya dihardik berdiri oleh orang-orang yang mengacungkan golok. Kemudian mereka didorong kasar, berjalan satu persatu menuju gudang tertutup. … Kondisi Kiai Ma’sum mengenaskan, matanya terluka, dia tidak lagi bisa melihat sekitar. Lidahnya juga telah dipotong. Nyai kiai tak kalah menyedihkan, kebayanya penuh darah. Setelah semua anggota keluarga kiai Ma’sum dimasukkan ke dalam gudang,Sulastri melangkah keluar, sambil memberi perintah, “Tutup pintunya!” Pintu gudang berdebam ditutup. “Bakar!” Liye, 2016196. Paparan imajinasi Tere Liye pada kalimat-kalimat di atas menjelaskan bagaimana hubungan sosial anatarwarga pondok sendiri. Musoh sebagai seorang guru bahkan bisa dianggap sebagai tangan kanan kiai Ma”sum tidak mampu menjelaskan ketidaknyamanannya, ketidakpuasannya kepada pimpinan pondok. Sehingga hal ini mengakibatkan munculnya rasa tidak adil pada dirinya. Hubungan baik yang sudah tercipta tak mampu ia pelihara hanya karena ketidakmampuannya dalam mengomunikasikan sebagai wujud hubungan sosial yang baik. Bahkan rasa ini membawa ia menempuh jalan yang berlawanan sebagai wujud ketidakpuasan dan perlawanannya terhadap keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan pimpinan pondok. Cara melawan yang digunakan oleh tokoh Musoh sering kali ditemukan pada masyarakat Indonesia. Ketidakpuasan terhadap kebijakan-kebijakan pimpinan seringkali diungkapkan dengan tindakan keluar dari kelompoknya. Bahkan kemudian menjadikan dirinya rival atau lawan. Khusus untuk pondok pesantren, rasa memiliki membuat mereka memiliki hubungan sosial yang kuat anatara satu orang dengan orang Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 6 lain. Tetapi tidak sedikit yang melakuka tindakan seperti yang dilakukan Musoh. Meninggalkan kelompoknya kemudian mendirikan kelompok lain dengan faham yang berbeda bahkan bertentangan dengan kelompok sebelumnya. Fakta Sosial berupa Hubungan Ekonomi Selain fakta kemanusiaan yang berwujud hubungan sosial, pada novel ini juga terdapat fakta sosial yang berwujud ekonomi. Persoalan-persoalan ekonomi terutama pada masa-masa tahun 1965 sangat carut marut. Meski demikian, pada pondok pesantren masih punya cara sendiri untuk memenuhi kebutuhan santrinya. Pondok biasanya punya sistim ekonomi sendiri yang dikelola bersama warga pondok lainnya. Seperti yang tanpak pada kutipan berikut. Tilamuttha tertawa menjelaskan jika ia ikut murid laki-laki lain membajak sawah milik madrasah Liye,2016157. Cara mengatur perekonomian pondok bisa diperhatikan pada teks di atas bahwa pondok melakukan kerja sama dengan para santri untuk mengelola aset yang dimiliki pondok. Pengelolaan ini untuk kepentingan pondok beserta warganya. Namun pada novel ini dijadikan sebagai alat untuk menghasut orang lain untuk membenci pimpinan pondok pesantren. Hal ini dapat dilihat pada kutipan di bawah ini. “Apa susahnya kamu melihatnya, Sri. Dia hanya ongkang kaki di rumah bagusnya, tapi santrinya bekerja siang malam untuknya “Tapi pak Kiai juga bekerja di sawah kan, Mas? Kita semua melihatnya. santri juga digeratiskan tinggal di madrasah, bisa makan, bisa tidur. Juga dapat uang saku” Liye,2016185. Pengaturan ekonomi seperti ini masih berlaku sampai sekarang terutama pada pondok pesantren yang letaknya berada di pedesaan. Pengelolaan perekonomian ini bukan hanya mengefesiankan pemasukan dan pengeluaran tetapi sekaligus mendidik peserta didik atau santri untuk bekerja dan menerapkan ilmunya secara nyata sehingga mereka memiliki keahlian tersendiri. Bahkan pada saat ini, model pendidikan seperti ini lebih dikembangkan dengan istilah yang berbeda yang biasa disebut dengan life skill. Tetapi pada novel ini, hal ini dijadikan senjata untuk menyerang kaum ulama, kiai dan pemilik pondok pesantren agar mendapat simpati dari kaum buruh dan tani. Menanamkan faham komunis, di mana tidak ada perbedaan kelas dalam pengaturan ekonomi. Seolah-olah kelompok orang kaya, kiai, ulama dan para priyayi atau biasa mereka sebut kaum borjuis memperbudak para buruh dan tani. Merasa nasib mereka diperhatikan dan diperjuangkan, buruh dan tani mudah termakan hasutan kelompok ini. Sehingga pada pemilihan umum pada tahun itu, PKI memeperoleh cukup banyak pengikut dan simatisan. Bahkan partai ini mendududki urutan pertama pada pemilu tersebut. Fakta Sosial berupa Hubungan Politik Politik sering kali menjadi topik yang menarik untuk dijadikan pesoalan dalam sebuah novel. Dalam perjalanan sebuah bangsa, politik menjadi bagian penting untuk mewujudkan bangsa yang besar. Hanya saja politik terkadang menjadi kejam ketika berada pada pemikiran, gagasan dan faham yang salah. Pada novel Tentang Kamu, politik banyak dibahas pada bab Penghianatan. Pembahasan ini terutama berkaitan dengan pergerakan faham komunis di Indonesia. Tahun-tahun itu, tanpa Sri sadari, gejolak politik tengah panas-panasnya di pulau Jawa, Itu tinggal hitungan bulan dari meletusnya pemberontakan besar akhir September 1965, saat kelompok yang menamakan dirinya Partai Komunis Indonesia PKI berusaha habis-habisan menyusun rencana mengambil alih kekuasaan yang sah. Itu bukan penghianatan pertama kelompok ini atas negara Indonesia, setelah mereka menusuk dari belakang tahun 1948. Liye 2016 181. Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 7 Penggalan novel di atas bukan lagi sebagai imajinasi Tere Liye semata, tetapi lebih pada paparan sejarah. Pada tahun 1965, gejolak politik di Indonesia memang sedang pada puncak krisis. Perebutan pengaruh dan kekuasaan anatar elit politik semakin tak terkendali. Penanaman pengaruh antara partai komunis dengan TNI terhadap kepiemimpinan presiden Soekarno semakin tajam. Persaingan yang tidak sehat untuk memperoleh pengikut semakin jelas terlihat. Bahkan perebutan ini diwarnai pertumpahan darah anak bangsa sendiri. Pertikaian, gesekan, bahkan benturan mulai terjadi diberbagai daerah. Provokasi setiap hari dilakukan, kebencian terhadap agama terus digemakan, seolah semua kiai adalah orang jahat munafik. Siapapun berbicara agama maka ia sok suci Liye, 2016188. Peperangan yang digenderangkan oleh kelompok komunis terhadap agama dan kalangan priyayi juga orang kaya terus berlanjut. Penyebaran kata-kata kebencian terus digemakan sebagai bentuk gerakan verbal untuk memperoleh pengikut dan simptisan. Selain slogan-slogan dan jargon yang merupakan tindakan pertikaian secara verbal, banyak pula tindakan-tindakan fisik yang dilakukan kelompok ini. Tokoh Musoh sebagai penggambaran pemimpin kelompok kiri ini, memimpin penculikan dan pembunuhan kelompok agama yaitu kiai Ma’sum beserta keluarga dan para santrinya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk balas dendam dan perlawanan terhadap kelompok pondok pesantren yang dianggapnya tidak adil dan memeras keringat para santri. Pada dasarnya tindakan ini semata-mata karena perbedaan aliran dan faham pemikiran politik. Tindakan-tindakan ini tergambar pada kutipan di bawah ini. Saatnya kami menghabisi tuan tanah, para kiai, dan militer. Kami akan menyerang madrasah kiai Ma’sum malam ini. Siapapun yang ada disana akan dihabusi. Liye, 2016189. Paparan imajinasi Tere Liye pada kalimat-kalimat di atas menjelaskan bagaimana perlakuan PKI sebagai sebuah organisasi masa bahkan partai pada masa tahun 1948 maupun 1965. Saat itu PKI dipimpin oleh Muso melakukan pemberontakan dengan menyerang dan menyekap serta membunuh pimpinan dan tokoh pesantren terutama di daerah Madiun, basis PKI pimpinan Muso. Perbuatan-perbuatan ini sebagai bentuk fakta kemanusiaan yang bersifat sosial non verbal. Fakta ini telah tercatat dalam sejarah, baik berupa tulisan maupun saksi hidup. Seperti penjelasan berikut. Salah satu korban keganasan PKI yang masih hidup adalah KH Roqib. Kini KH Roqib adalah imam besar Masjid Jami’ Baitussalam Magetan. Beliau menceritakan tentang kebencian PKI terhadap apapun yang bernuansa agama. Salah satu unsur umat Islam yang juga paling dibenci PKI adalah Masyumi. Sebagai salah seorang kyai yang juga tokoh Masyumi, Roqib pun menjadi sasaran yang harus dilenyapkan. Dia diculik PKI pada tanggal 18 September 1948 sekitar pukul dini hari, tak lama setelah PKI merebut kota Madiun. Belaiu diculik oleh anggota PKI sebanyak 12 orang dengan pakaian hitam dan ikat kepala merah. KH Roqib diciduk di rumah kediamannya di kampung Kauman, Magetan. Dini hari itu juga dia dibawa ke Desa Waringin Agung dan disekap di sebuah rumah warga. KH Roqib dibawa ke sebuah dusun bernama Dadapan yang termasuk dalam wilayah Desa Bangsri. Dia diseret oleh beberapa orang ke sebuah lubang di tengah ladang. Ketika dia akan disembelih di depan lubang, tiba-tiba Sang kiai mengingat pelajaran pencak silat yang diperolehnya. Seketika itu dia menghentakkan kakinya dan meloncat lari ke kebun singkong. Dia lari sekencang-kencangnya sampai menjauh dari para penculiknya. Begitu dia lolos, Roqib bersembunyi di antara rerimbunan semak belukar hingga siang hari. Naas, siang itu pula dia ditemukan kembali oleh anggota PKI yang mengejarnya. Roqib pun tertangkap dan diikat lagi, lalu disiksa sepanjang jalan dari Desa Bangsri hingga pabrik gula Gorang-Gareng. Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 8 Di pabrik gula Gorang-Gareng, Roqib disekap dalam sebuah loji rumah-rumah besar untuk asrama karyawan. Di dalam loji terdapat banyak kamar dengan berbagai ukuran. “Ketika saya datang ke loji itu, kamar-kamarnya sudah penuh dengan tawanan. Satu kamar ukuran 3 x 4 meter diisi kurang lebih 40-45 orang. Bersama 17 orang lainnya, saya dimasukkan ke dalam salah satu kamar yang terdapat di ujung loji,” tutur Roqib. PKI kemudian menembaki loji tempat Roqib dan tawanan lainnya disekap lebih dari satu jam lamanya. Tubuh-tubuh yang terkena peluru langsung terkapar di lantai bersimbah darah. PKI tidak mempedulikan teriakan histeris para korban yang terkena peluru. Mereka terus saja melakukan tembakan. Di antara belasan orang yang ada di dalam loji, hanya Roqib dan Salis, serta seorang tentara bernama Kafrawi, yang selamat. Menurut guru ngaji ini, setiap habis menembak, pistol yang digunakan PKI itu tidak bisa menembak lagi, tapi harus dikokang dulu. “Saya bisa selamat dari tembakan karena memperhitungkan jeda waktu antara tiap tembakan sambil bersembunyi di bawah jendela. Kalau tanpa pertolongan Allah, tidak mungkin saya selamat,” kata Roqib getir. Selain pimpinan pondok, kiai dan santri, PKI juga menamgkap dan membunuh aparat pemerintah. Siapapun yang menentang dan berlawanan pendapat dengan PKI menjadi sasaran kebiadabannya. Apa yang digambarkan Tere Liye pada novel Tentang Kamu dengan tokoh yang berbeda dan dan latar tempat yang samarkan tetap memberi jejak prilaku PKI pada masa silam. Seperti yang diungkap oleh Hanif berikut. Letak desa Soco cukup strategis, di samping dekat lapangan Udara Iswahyudi, juga dilintasi re-rel kereta Lori dari daerah perkebunan tebu menuju berbagai pabrik gula seperti pabrik gula Pagotan, Kanigoro, Glodok dan Pabrik gula Rejosari di Gorang-gareng. Di desa Soco terdapat sumur-sumur tua di tengah tegalan yag sangat memungkinkan untuk dipakai sebagai lubang pembantaian karena letaknya jauh dari pemukiman penduduk. Sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, warga masyarakat desa Soco sudah mulai merasakan adanya aksi-aksi yang dilakukan oleh orang-orang PKI; pencurian, perampokan dan penculikan berlangsung dengan semena-mena, yang menjadi korban senantiasa orang-orang yang bukan PKI. Kejadian itu mencapai puncaknya pada tanggal 18 September 1948. Pada tahun ini terjadi pembantain PKI. Sumur-sumur tua di Soco tersebut dirancang sedemikian rupa oleh PKI dijadikan basis untuk membantai para tokoh yang dianggap lawan, seperti Bupati Magetan Sudibjo, Kapten Soebarin, Jaksa R. Moerti, Muhammad Suhud Ayahanda Kharis Suhud, Kapten Sumarno, Suratatim, KH. Muhammad Noer, serta aparat pamerintah Republik Indonesia lain yang berhasil mereka tawan itu dibantai. Di Soco terdapat dua buah sumur tua yang dipakai sebagai lubang pembantaian oleh FDR/PKI, dan keduanya terletak tidak jauh dari jalur rel kereta lori pengangkut tebu. Para tawanan yang disekap di Pabrik gula Rejosari secara bergiliran diangkut dengan gerbong lori. Dari jalur Rejosari itulah gerbong-gerbong lori diarahkan ke jurusan desa Soco dan desa Cigrok yang merupakan lubang-lubang pembantaian. Menurut seorang saksi bernama Soepardi, pada waktu itu Lurah Belotan yang bernama Darmo melaporkan ke tangsi polisi ikhwal masuknya FDR/PKI di desanya. Beberapa saat kemudian, Soepardi melihat Lurah tersebut beserta cariknya digiring oleh FDR/PKI ke sumur Soco untuk dibantai Hanif, 69-70. Jauh sebelumnya, PKI juga sudah pernah melakukan pemberontakan. Pada tahun 1926-1927, PKI melakukan pemberontakan pertama di Jawa, tetapi dikecam oleh kominterm juga pemimpin-pemimpin mereka yang ada di pengasingan apalagi pemberontakan ini mengalami kegagalan Ricklefs, 2008271. Pemberontakan ini berawal karena adanya Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 9 perselisihan di kalangan petinggi partai tentang cara melancarkan perjuangan. Selain fakta kemanusiaan dalam bentuk sosial nonverbal, ada beberapa fakta politik dalam bentuk verbal yang terdapat pada novel ini. Salah satunya adalah ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh kelompok PKI. Ungkapan-ungkapan ini menyudutkan dan mengecilkan kelompok tertentu terutama kelompok agama atau pondok pesantren. Hal ini dijelaskan pada kutipan di bawah ini. Singkirkan para munafik! tuan tanah1 Para Kiai!. Para penonton kembali mengepalkan tinju ke udara. “Baik sebagai hiburan malam ini, mari kita sambut ludruk dengan lakon Matine Gusti Allah’.” Liye, 2016 186 . Ungkapan ini menjadi jargon yang sering dijadikan senjata oleh kelompok PKI untuk menarik masa terutama kaum buruh dan tani. Karena Objek dan basis kampanye komunis memang berada pada kelompok ini bukan hanya di Indonesia bahkan seluruh dunia. Kemiskinan dan kekurangan yang dialami oleh sebagaian besar kelompok ini menjadi hal yang mampu menggeret mereka untuk dengan mudah tertarik mengikuti faham ini. Selain faham ini membawa penderitaan mereka sebagai misi utama untuk menuntut keadilan, masalah-masalah kesamaan dan pemerataan antara kaum proletrar yang diwakili kaum buruh dan tani dengan kaum borjuis yang diidentikan dengan orang-orang kaya dan sejahtra terutama kaum priyayi, kiai dan TNI. Fakta-fakta ini tak bisa dipungkiri kebenarannya. Selain diungkapkan dalam bentuk tulisan sejarah, saksi-saksi hidup yang mengalami langsung kejadian tersebut tak mampu melupakan perbuatan PKI terhadap mereka khususnya dan rakyat Indonesia umumnya. Kebiadaban dan kekejian tindakan mereka bahkan dibuatkam monumen untuk mengabadikannya. Bahkan segala media dimasuki untuk mengingatkan termasuk film dan novel. Salah satu novel itu adalah karya Tere Liye Tentang Kamu. Tere Liye mengambil sejarah pemberontakan PKI ini sebagai lintasan perjalanan tokoh Sri, sekaligus ingin menukil sejarah agar peristiwa tersebut tidak dilupakan dan lenyap dalam perjalanan bangsa. Penyampaian yang dipilih Tere Liye melalui novel dengan tambahan imajinasi memberikan warna lain dalam pemahaman perjalanan sejarah bangsa Indonesia. SIMPULAN Berdasarkan paparan hasil dan pembahasan diketahui bahwa fakta kemanusiaan dalam novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang mencerminkan sejarah PKI dominan berupa fakta sosial, yakni berupa hubungan sosial, ekonomi, dan politik. Dalam hal ini ada yang berupa verbal dan ada pula yang berupa nonverbal. Disimpulkan bahwa 1 Fakta sosial berupa hubungan sosial tercernin pada kisah penculikan dan pembantaian kiyai, keluarga kiyai, dan santri-santri pondok pesantrean oleh Musoh dan Latri karena ketidakpuasannya terhadap kebijakan kiayai Ma’sum, padahal sebelumnya mereka adalah orang kepercayaan kiyai Ma’sum; 2 Fakta sosial berupa hubungan ekonomi tercernin pada kisah pengaturan perekonomian pondok pesantren yang dijadikan alat untuk menghasut orang lain agar membenci pimpinan pondok pesantren dan melakukan pemberontakan; dan 3 Fakta sosial berupa hubungan politik tercernin pada kisah pergerakan faham komunis di Indonesia tahun 1948-1965, perebutan pengaruh dan kekuasaan anatar elit politik TNI dan PKI yang tak terkendali, dan penyebaran kata-kata/slogan kebencian oleh kelompok PKI. SARAN Sesuai dengan temuan penelitian ini, terdapat beberapa hal yang patut dikemukakan sebagai saran. Hal-hal dimaksud adalah a kepada para peneliti berikutnya, terutama yang meneliti masalah karya sastra sebaiknya lebih banyak menggunakan metode strukturalisme genetis karena metode ini lebih komprehensif, yakni memandang dan menganalisis karya sastra dari berbagai sudut pandang; dan b kepada Jurnal Ilmiah Mandala Education terakreditasi Peringkat 4 No. SK 36/E/KPT/2019 Vol. 7. No. 1. Januari 2021 p-ISSN 2442-9511 e-ISSN 2656-5862 Jurnal Ilmiah Mandala Education 10 para guru bahasa Indonesia di SMA sebaiknya menggunakan hasil kajian semacam ini sebagai landasan pengembangan bahan ajar berupa teks cerita sejarah. tentu saja setelah direkonstruksi dan direstrukturisasi berdsarkan struktur dan kebahasaan teks cerita sejarah. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terimakasih terutama disampaikan kepada Prodi Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unram yang telah memfasilitasi terselenggaranya penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pembimbing I dan pembimbing II, yang telah membantu peneliti menyelesaikan semua rangkain penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Damono, Sapadi Djoko. 2009. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdikbud Endraswara, Suwandi. 2011. Metodologi Penelitian Sosiologi Sastra. Yogyakarta. CAPS Fananie, Z. 2000. Telaah Sastra. Surakarta Muhammadiyah University Press. Faruk. 2002. Kelangsungan Hubungan Teori dengan Kritik Sastra Indonesia. Majalah Horison edisi XXXV, Januari, hal. 9-19. _______. 2014. Pengantar Sosiologi Sastra dari Strukturalisme Genetik sampai Post-Moderenisme. YogyakartaPustaka Pelajar Hanif, M. 2011. Peranan Wanita Desa Soco Bendo Magetan Dalam Mengatasi Dampak Psikologi Sosial Pasca Madiun Affair 1948 Studi Sejarah Sosial. AGASTYA JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARAN-NYA, 11, 63-82. Iswanto. 2003. “Penelitian Sastra dalam Perspektif Strukturalisme Genetik” dalam Metodologi Penelitian Sastra Jabrohim, ed.. Yogyakarta Hanindita Graha Widya. Liye, Tere. 2014. Rindu. Jakarta Republika Liye, Tere. 2015. Sanset dan Rosie. Jakarta Republika Liye, Tere. 2016. Tentang Kamu. Jakarta Republika Liye, Tere. 2018. Anak Cahaya. Jakarta Republika Ratna, Ny. Kunta. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar Ricklefs, 2008. A History of Modern Indonesia Since Third Edition. BasingstokePALGRAVE Rokhman, M. A. 2008. Keterkaitan Kajian Budaya dan Studi Sastra di Inggris Sebuah Telaah Singkat. Jurnal Humaniora, 201, 18-25. Siswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar. Sitepu, Gustaf. 2009. Strukturalime Genetik Asmaraloka. Tesis tidak dipublikasikan. PPS Universitas Sumatra Utara Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung Alfabeta Wibowo, Erwin. 2017. Kajian Nilai-nilai Historisme dalam Novel Trilogo Soekram Karya Sapardi Joko Damono. Jurnal Kibas Cendrawasih Vol. 14 2. Hal 209 -220 ResearchGate has not been able to resolve any citations for this History of Modern Indonesia Since Third EditionTere LiyeLiye, Tere. 2015. Sanset dan Rosie. Jakarta Republika Liye, Tere. 2016. Tentang Kamu. Jakarta Republika Liye, Tere. 2018. Anak Cahaya. Jakarta Republika Ratna, Ny. Kunta. 2013. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka Pelajar Ricklefs, 2008. A History of Modern Indonesia Since Third Edition. BasingstokePALGRAVE Rokhman, M. A. 2008. Keterkaitan Kajian Budaya dan Studi Sastra di Inggris Sebuah Telaah Singkat. Jurnal Humaniora, 201, Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka PelajarSiswantoroSiswantoro. 2010. Metode Penelitian Sastra. Yogyakarta Pustaka tidak dipublikasikan. PPS Universitas Sumatra Utara SugiyonoGustaf SitepuSitepu, Gustaf. 2009. Strukturalime Genetik Asmaraloka. Tesis tidak dipublikasikan. PPS Universitas Sumatra Utara Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung Alfabeta Wibowo, Erwin. 2017. Kajian Nilai-nilai Historisme dalam Novel Trilogo Soekram Karya Sapardi Joko Damono. Jurnal Kibas Cendrawasih Vol. 14 2. Hal 209 -220 Resensi Novel Tentang Kamu Tere Liye – Bagi sebagian orang yang belum membaca karya tulis Tere Liye, barangkali akan menduga bahwa tema yang diangkat pada novel Tentang Kamu ini adalah murni kisah romansa. Hal itu sebab apabila kalian melihat sinopsis di balik buku ini, begitu erat dengan kalimat-kalimat cinta. Namun, bagi para penggiat karya Tere Liye, tentunya sudah paham betul dengan cerita romansa yang akan diciptakan olehnya bukanlah kisah romansa yang standar. Tentang Kamu ini bisa dikategorikan sebagai novel fiksi yang mengandung unsur sejarah-fiksi, drama kehidupan, aksi, dan sedikit bumbu romantisme. Sinopsis Novel Tentang KamuJuz Pertama Kesabaran 1946-1960Juz Kedua Persahabatan 1961-1966Juz Ketiga Keteguhan Hati 1967-1979Juz Keempat Cinta 1980-1999Juz Kelima Memeluk Semua Rasa Sakit 2020Logika dan Ide Cerita PenulisPesan Moral Novel Tentang KamuBelajar melalui Kehidupan Tokoh Sri NingsihBelajar melalui Tokoh Zaman ZulkarnaenKesimpulan Resensi Novel Tentang Kamu Tere LiyeBuku Best Seller NovelArtikel Terkait Tere Liye Sinopsis Novel Tentang Kamu Tentang Kamu Tentang Kamu, novel dengan tokoh utama bernama Zaman Zulkarnaen. Ia merupakan lulusan magister hukum di Oxford University. Zaman bekerja di sebuah firma hukum, tepatnya di Belgrave, London. Firma hukum tersebut bernama Thompson & Co., ia berada di bidang Elder Law yang menjadi legendaris sebab prinsip kuat yang dipegang olehnya. Suatu hari, Zaman dipanggil oleh atasannya untuk menyelesaikan sebuah kasus dari sang klien. Kasus tersebut adalah persoalan harta warisan yang ditinggalkan oleh kliennya yang belum lama meninggal dunia. Setelah diselidiki, harta warisan yang ditinggalkan ini jumlahnya sangatlah mencengangkan, yaitu 1% saham perusahaan besar yang apabila diukur dengan kurs poundsterling, bernilai satu miliar atau setara dengan 19 triliun rupiah. Klien yang meninggalkan harta warisan bernilai besar itu namanya Sri Ningsih yang rupanya memiliki kewarganegaraan sama seperti Zaman, yakni Indonesia. Namun, data diri dari Sri Ningsih sangatlah sukar untuk ditemui, bahkan ia tidak meninggalkan surat wasiat sama sekali. Dengan begitu, akan sulit untuk mencari ahli warisnya yang berwenang menerima warisan dari Sri Ningsih. Akan tetapi, Sri Ningsih meninggal beberapa barang yang tidak begitu banyak. Barang yang dapat membantu Zaman untuk menyelesaikan kasus harta waris dari Sri Ningsih ini hanyalah sebuah ditulis tangan oleh Sri Ningsih. Diari tersebut diberikan oleh pengurus panti bernama Aimee, ia adalah orang kepercayaan dari Sri Ningsih untuk menghubungi kantor pengacara bilamana ia meninggal dunia dan menyimpan diari Sri Ningsih, sebelum dirinya kehilangan kesadaran. Bisa diibaratkan, diari milik Sri Ningsih itu menjadi peta bagi Zaman untuk melanjutkan perjalanan memecahkan kasus harta waris. Diari itu berisikan lima bagian yang mana bagian itu ditulis oleh Sri Ningsih dengan sebutan Juz. Juz Pertama Kesabaran 1946-1960 Juz pertama, yaitu mengenai kesabaran. Di sini pembaca akan menyaksikan kisah di masa kecil Sri Ningsih yang sarat akan kesedihan, dimulai pada tahun 1946 hingga 1960. Zaman hendak mulai menjelajahi Pulau Bungi yang terletak di Sumbawa. Peristiwa besar pun akan menguji rasa sabar para pembaca di juz pertama ini. Setelah mengetahui juz pertama mengenai kehidupan dari Sri Ningsih, Zaman melanjutkan perjalanannya ke Jawa Tengah, tepatnya Surakarta, untuk menjajaki juz atau bagian kedua dari kehidupan Sri Ningsih. Juz kedua, yaitu mengenai Persahabatan. Juz Kedua Persahabatan 1961-1966 Juz kedua mengenai persahabatan. Dengan deretan kisah dari cerita yang panjang berawal pada tahun 1961 hingga 1966. Pembaca akan menikmati persahabatan indah yang secara tiba-tiba berganti menjadi sebuah kedengkian yang amat mendalam. Kisah Sri Ningsih pada tahun ini akan mengajak para pembacanya merasakan guncangan politik Indonesia pada zaman itu dari partai komunis. Ketika di Surakarta, Zaman berjumpa dengan sahabat Sri Ningsih bernama Ibu Nur’aini. Mereka berdua telah bersahabat baik semenjak Sri Ningsih datang di perkampungan santri tersebut. Tak hanya berdua, ada Mba Lastri, yaitu salah satu guru di madrasah–yang menjadi sahabat mereka. Ibu Nur’aini pun membagikan kisah kehidupan Sri Ningsih selama ia menetap di Surakarta. Ibu Nur’aini menyodorkan berbagai foto, berkas, dan surat yang pernah dikirimkan oleh Sri Ningsih. Setelah mengetahui juz kedua dari kehidupan Sri Ningsih, Zaman melakukan perjalanan ke Jakarta. Juz ketiga ialah mengenai Keteguhan Hati. Juz Ketiga Keteguhan Hati 1967-1979 Juz ketiga merupakan keteguhan hati. Kisah pada bagian ini terjadi pada 1967-1979 akan membuat pembaca terdorong dengan semangat yang digambarkan Sri Ningsih. Di bagian inilah pembaca akan diperlihatkan sejarah Jakarta tempo dulu. Hal itu contohkan, seperti berbagai kerbau yang masih berlalu lalang di jalan, monas yang dikelilingi oleh rerumputan hijau, ungkapan dari para pedagang kaki lima, sewa kos hanya 200 rupiah, dan lain sebagainya. Menariknya, disinggung mengenai ojek online. Selain itu, keteguhan hati dari Sri Ningsih akan diuji dan dilatih pada bagian ini sebab di sini pembaca akan belajar melakukan bisnis sampai akhirnya mempunyai sebuah perusahaan. Kemudian, pertanyaan atas kepemilikan 1% saham perusahaan besar yang dimiliki oleh Sri Ningsih, terjawab di sini. Hanya bermodal beberapa surat yang diberikan Ibu Nur’aini, Zaman akhirnya menjajaki berbagai alamat yang pernah dipakai oleh Sri Ningsih untuk surat-menyurat. Ia mendatangi Pasar Tanah Abang dan daerah Pasar Senen. Akan tetapi, Zaman tidak dapat mendapati clue apapun. Ia hanya dapat melihat sebagian besar kehidupan dari Sri Ningsih melalui beberapa surat yang diberikan Ibu Nur’aini. Di alamat terakhir, Zaman berkunjung ke Pulogadung, kemudian menuju ke salah satu pabrik sabun mandi yang berada di sana. Akhirnya, Zaman berhasil menemui seseorang yang memang kenal dengan Sri Ningsih, namanya ialah Catherine atau kerap disapa Ibu Cathy. Ibu Cathy ini membagikan cerita kejadian yang terjadi sesudah surat terakhir dikirim ke Surakarta. Setelah bermodalkan informasi-informasi yang didapatkan oleh Zaman di Indonesia, ia pun pergi ke London guna menyelidiki juz keempat kehidupan dari Sri Ningsih. Juz keempat, yakni Cinta. Juz Keempat Cinta 1980-1999 Juz keempat tentang Cinta. Pada bagian ini, kita akan diperlihatkan sisi lain dari seorang Sri Ningsih sebelumnya. Kisah cinta Sri Ningsih bersama seorang pria bernama Hakan, seorang lelaki keturunan Turki. Di bagian inilah, pembaca akan dibuat bak gado-gado perasaannya. Ada rasa haru, suka dan duka, tawa bahagia yang akan menemani pembaca dalam menyelami kisah yang berjalan pada tahun 1980-1999, tepatnya di London. Usai menyelidiki lagi beberapa berkas yang dipunyai oleh Sri Ningsih, Zaman berhasil mendapati tempat yang pernah disinggahi Sri Ningsih. Menariknya, orang yang mengenal Sri Ningsih nyatanya sangatlah dekat dengan Zaman. Siapakah orang tersebut? Kalian bisa membaca novelnya. Orang tersebut mengajak Zaman ke kediamannya dan memperkenalkan zaman kepada kedua orang tuanya. Zaman pun diceritakan terkait seluruh kehidupan Sri Ningsih semasa dirinya menetap di London. Belum juga usai Zaman menjajaki bagian akhir kehidupan Sri Ningsih, dirinya dihubungi bahwa firma hukum dari A&Z Law mengajukan sebuah permintaan rapat sebagai delegasi ahli waris yang tersisa. Zaman sangat didesak oleh waktu, ia pun berangkat ke Paris untuk menyelidiki bagian terakhir dari kehidupan Sri Ningsih. Juz Kelima Memeluk Semua Rasa Sakit 2020 Juz kelima dari kisah Sri Ningsih, yaitu mengenai Memeluk Semua Rasa Sakit. Pada akhirnya, Sri Ningsih mampu mengikhlaskan semua kejadian dan persoalan yang terjadi dengan dirinya. Dikisahkan tokoh Sri Ningsih mulai dari dirinya berada di London, kemudian secara tiba-tiba ke Paris, sampai akhirnya tutup usia di Panti Jompo. Meskipun hanya sepintas, ada pula kisah masa lampau dari seorang Zaman yang sarat akan kesedihan dan kepatihan. Ia ingin belajar, layaknya Sri Ningsih yang berdamai dengan siapapun, tetapi nyatanya ia tidak dapat untuk persoalannya. Di panti jompo, Aimee membagikan kisah mengenai kehidupan dari Sri Ningsih lewat berbagai album foto yang panti miliki, salah satunya cerita dari Aimee menyampaikan petunjuk mengenai Sri Ningsih yang mengetahui firma hukum Thompson & Co., sesudah menghubungkan kejadian demi kejadian. Bedebah di Ujung Tanduk Di Negeri Para Bedebah, pencuri, perampok, bagai musang berbulu domba. Di depan, wajah mereka tersenyum penuh pencitraan. Di belakang penuh tipu-tipu. Di Negeri di Ujung Tanduk, pencuri, perampok, berkeliaran menjadi penegak hukum. Di depan, di belakang, mereka tidak malu-malu lagi. Tapi setidaknya, Kawan, dalam situasi apapun, petarung sejati akan terus memilih kehormatan hidupnya. Bahkan ketika nasib di ujung tanduk. Dia akan terus bertarung habis-habisan, bersama sahabat sejati. Logika dan Ide Cerita Penulis Bukan persoalan cinta, novel Tentang Kamu lebih tepatnya digolongkan sebagai novel misteri ataupun seperti detektif. Akan tetapi, selayaknya berbagai karya tulis novel Tere Liye lainnya, novel ini erat dengan berbagai nilai, seperti makna sebuah perjuangan, persahabatan, dan kekeluargaan. Cerita dalam novel ini diawali dengan sebuah logika yang bisa dikatakan cukup simpel dan sederhana untuk diikuti oleh sebagian pembacanya. Namun, kisah tersebut beranak-pinak menjadi kisah yang rumit dan terkesan tidak realistis saat menjelang bagian akhir–yang mana muncul seorang tokoh antagonis. Karakter tokoh antagonis tersebut semacam bayangan masa lalu yang selama Sri Ningsih hidup, kerap kali menghantuinya. Dengan kata lain, novel ini tampaknya menyuguhkan tokoh dengan karakter antagonis dan protagonis yang terlewat hebat dan sempurna yang mana secara nyata manusia tidaklah se-hitam putih itu. Sri Ningsih diilustrasikan sebagai tokoh dengan karakter protagonis yang sangat sempurna, tanpa goresan atau cacat sedikitpun. Hal tersebut tidaklah begitu mengganggu pembacanya sebab barangkali memang ada di dunia ini manusia yang memiliki karakter seperti Sri Ningsih. Akan tetapi, dilihat dari berbagai kebaikan yang diberikan kepada orang-orang terdekat Sri Ningsih. Dalam hal tersebut, seperti sesayang itu dirinya dengan sang adik tiri dan bagaimana dirinya dengan tulus memaafkan secara cuma-cuma pemicu utama dari petaka yang menimpa Sri Ningsih. Berdasarkan hal tersebut, seakan membuat anggapan tersendiri apakah tidak ada guncangan batin dalam dirinya? Dan apakah Sri Ningsih memang orang yang sangat berbaik hati atau justru hati yang dimilikinya sudah mati sehingga segala kebaikan yang dilakukannya tidak melibatkan hatinya? Di bagian lain, rasa benci dari tokoh antagonis kepada Sri Ningsih terlalu berlebihan, sementara dikisahkan bahwa Sri Ningsih tidak secara langsung menjadikan pemicu kejatuhan dari tokoh antagonis tersebut di masa lampaunya. Dalam hal ini, latar belakang atau alasan dari tokoh antagonis untuk mengejar Sri Ningsih dan memikul kebencian yang mutlak belum mengena di akal logika. Lantas, apakah tujuan tokoh antagonis tersebut? karena rasa benci, serakah, atau hal lainnya? Pesan Moral Novel Tentang Kamu Novel Tentang Kamu bisa dibilang salah satu novel Tere Liye yang paling diminati sebab ceritanya yang sangat menarik dan sarat akan pesan moral. Bila kita melihat pada novel Hujan, dari awal sampai akhir, penulis hanya terpaku dengan satu topik, yaitu sebuah penerimaan. Akan tetapi, pada novel ini, tema yang dibawa tentunya berbeda di tiap bagian atau juz kehidupan dari Sri Ningsih yang mana seluruhnya tentu dapat dijadikan sebagai hikmah dan pesan moral. Pada bagian pertama, pelajaran berharga yang dapat dipetik, yaitu tentang kesabaran–seorang Sri Ningsih tetaplah bersikap sabar dalam menjalani kehidupan masa kecilnya yang sungguh menyiksa. Di bagian kedua, yaitu mengenai bentuk kedengkian rasa yang dimiliki oleh seseorang dapat berganti menjadi sebuah kebencian yang dahsyat, bahkan hal demikian dapat membuat seseorang itu menjadi gelap mata. Pada bagian ketiga, yaitu keteguhan hati Sri Ningsih dapat menjadi seorang pengusaha yang berjaya walaupun ia ditimpa banyak musibah dan persoalan. Bagian keempat, yaitu kisah percintaan tokoh Sri Ningsih, sederhana, tetapi begitu indah. Sementara bagian kelima mengenai damainya Sri Ningsih dengan masa lampaunya dan terus meneruskan sebagai tujuan melanjutkan kehidupannya. Belajar melalui Kehidupan Tokoh Sri Ningsih Membaca novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang satu ini akan memberikan gejolak semangat bagi pembacanya sebab akan diperlihatkan bagaimana kita melihat hidup ini. Kisah dari tokoh Sri Ningsih dapat atau bahkan perlu dijadikan sebagai teladan agar hidup menjadi lebih damai meskipun banyak cobaan yang menimpanya. Memang akan terasa sukar untuk mendapati sifat seseorang, layaknya tokoh Sri Ningsih dalam kehidupan nyata. Sri Ningsih dengan watak polos, senantiasa bersikap dan memandang positif pada setiap kejadian, serta tidak bersuuzan pada orang lain yang mana orang tersebut terpampang nyata di hadapannya. Ia selalu mengambil pelajaran dan hikmah dari setiap kejadian yang dialami olehnya. Pembaca yang mudah terbawa perasaan, tentu akan terenyuh saat membaca kehidupan Sri Ningnya yang bernas akan kesedihan dan kepahitan. Mungkin tidak akan terbayangkan bila hal tersebut terjadi pada diri ini, akankah diri ini kuat dalam menghadapinya? Oleh karena itu, setidaknya sikap Sri bisa kita jadikan contoh positif. Ibunya meninggalkan dirinya sebelum ada waktu untuk melihatnya, begitupun sang ayah yang meninggalkannya. Ia mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tirinya, yaitu disiksa. Sahabatnya sendiri pun mengkhianati dirinya, adiknya meninggal dengan potongan tubuhnya dimakan oleh anjing yang disebabkan perbuatan sahabatnya sendiri. Belum lagi, kedua kalinya bayi dari Sri Ningsih meninggal dunia yang disusul oleh sang suami. Ia terpaksa dan dipaksakan oleh keadaan untuk berjuang sendirian, sebatang kara. Ke manakah ia harus mengadu? Siapa yang hendak mendengarkan segala keluhnya? Manusia di kehidupan nyata, pastinya akan sukar dalam menghadapi dan menjalani kerumitan serta kompleksnya kepahitan hidupnya. Belajar melalui Tokoh Zaman Zulkarnaen Tokoh Zaman Zulkarnaen di dalam novel ini digambarkan sebagai sosok yang jenius. Ia sangat cerdas dalam mengaitkan dari persoalan yang satu ke persoalan lainnya dan menarik kesimpulan atas berbagai persoalan tersebut. Selain itu, ia adalah sosok yang pantang menyerah dalam menghadapi suatu rintangan, enggan untuk rehat sebelum apa yang dikerjakan tuntas. Hal yang terpenting, yaitu dirinya selaku pengacara selalu bersikap jujur dan memiliki integritas yang tinggi. Apabila boleh dikatakan, penegak hukum di negeri ini perlu mengambil sikap yang kemudian dijadikan teladan dari tokoh Zaman Zulkarnaen ini. Adapun kutipan dari Zaman yang ada pada novel Tentang Kamu ini dapat dijadikan sebagai pengingat diri. Ringkasnya, seperti ini “Jikalau berkata jujur hendak membuat empat orang jahat terbunuh secara mengenaskan, sementar berbohong akan membuat dirinya selamat, pilihan apa yang hendak dipilih? Ia rela mati bersama keempat orang jahat tersebut demi menegakkan kebenaran yang ada.” Malam yang Menegangkan Kerja sama adalah kunci mengatasi banyak masalah. Malam itu, serigala buas melolong mendatangi perkebunan jagung untuk memangsa hewan ternak. Bebek berkwek kwek kwek ketakutan. Ayam ber-petok petok petok lari. Kambing mengembik gemetar. Semua panik! Aduh, apa yang harus mereka lakukan? Kerja sama. Jika kalian ingin mengalahkan musuh yang lebih kuat. Mengatasi masalah yang lebih besar. Novel ini sangat layak untuk dibaca bagi penyuka buku yang sarat akan isi alias tebal. Di dalamnya tentu bukanlah bacaan biasa, ada banyak pesan moral yang dapat dapat pembacanya petik dan adanya pengetahuan akan berbagai hal. Isi dari novel ini tidaklah seberat berbagai novel nonfiksi lainnya yang kadang kala memperlihatkan secara rinci informasi proses, kejadian, atau lokasinya, tetapi bukan juga sebuah novel kosong tanpa adanya penelitian terlebih dahulu dari sang penulisnya. Novel ini sesuai dengan proporsinya, tidak membuat otak dan pikiran para pembacanya menjadi ngebul, serta cukup sederhana dan tersampaikan secara logis. Kehidupan Sri Ningsih yang penuh akan drama kepahitan dan penderitaan, disuguhkan oleh sang penulis dengan sangat apik sehingga membuat para pembacanya larut akan emosi. Novel Tentang Kamu sangat disarankan bagi pembaca yang menyukai cerita dengan latar belakang sejarah, persoalan hukum, sebuah penyelidikan, dan tentunya penjelajahan. Pun pada pembaca yang menyukai akan kisah romansa sederhana dengan sedikit taburan manis di dalamnya. Bukanlah kisah romanja pada remaja yang apabila patah satu, tumbuh seribu. Akan tetapi, tampaknya novel karya dari penulis best seller yang satu ini, tidak disarankan oleh anak-anak sebab ada beberapa bagian pada cerita yang cenderung sadis dan mengerikan. Kemudian, novel ini memiliki ketebalan yang terbilang akan melelahkan bila dibaca oleh kalangan anak-anak, yaitu sekitar 500 halaman. Bagi penggiat novel dengan genre yang sarat akan teka-teki ataupun misteri, novel Tere Liye yang satu ini bisa dijadikan referensi bacaan yang tepat. Itulah Resensi Novel Tentang Kamu Tere Liye. Apabila Grameds tertarik dan ingin memperluas pengetahuan terkait bidang apapun atau ingin mencari buku sebagai referensi bacaan, tentu kalian bisa temukan, beli, dan baca bukunya di dan Gramedia Digital karena Gramedia senantiasa menjadi SahabatTanpaBatas bagi kalian yang ingin menimba ilmu. Penulis Tasya Talitha Nur Aurellia Sumber dari berbagai sumber Si Anak Pemberani Buku ini tentang Eliana, si anak pemberani yang membela tanah, sungai, hutan, dan lembah kampung halamannya. Saat kerakusan dunia datang, Eliana bersama teman karibnya bahu-membahu melakukan perlawanan.